a:2:{s:2:"id";s:7694:"

A. Selayang Pandang

Gresik tidak hanya terkenal sebagai salah satu kota industri terbesar di Jawa Timur saja, tapi juga menjadi salah satu tujuan wisata sejarah, khususnya wisata makam para tokoh bersejarah. Makam Kanjeng Sepuh adalah salah satu dari sejumlah makam tokoh besar yang ramai diziarahi oleh wisatawan dari berbagai daerah. Menurut cerita, Kanjeng Sepuh Sedayu adalah gelar yang diberikan kepada Raden Adipati Suryodiningrat, putra Sayid Abdur Rohman Sinuwun Solo. Gelar tersebut diperoleh saat dinobatkan menjadi bupati atau adipati ke-8 di Sidayu.

Selain sebagai bupati, Kanjeng Sepuh Sedayu juga dikenal sebagai ulama yang sakti dan ahli strategi. Semasa pemerintahannya, Kanjeng Sepuh Sedayu juga dikenal sangat dekat dengan rakyat. Pada malam hari, ia kerap berkeliling ke seluruh wilayah kadipaten untuk mengetahui keseharian dan problem yang dihadapi rakyatnya. Ia juga berani menentang kebijakan Belanda tentang pajak dan melindungi rakyatnya dari berbagai penindasan Belanda.

Atas kiprahnya sebagai bupati sekaligus ulama yang berpihak kepada rakyat, Kanjeng Sepuh  Sedayu pantas mendapat penghormatan. Hingga kini masyarakat Sedayu dan sekitarnya selalu berbondong-bondong menziarahi makamnya untuk memberi penghormatan. Hampir setiap hari, makam Kanjeng Sepuh dipenuhi peziarah. Kunjungan peziarah akan mencapai puncaknya setiap hari Jum’at Pahing. Untuk mengenang kebesaran Kanjeng Sepuh Sedayu, masyarakat setiap tahun mengadakan haul dan istighotsah akbar di Masjid Kanjeng Sepuh Sedayu. Acara ini sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Sedayu.

B. Keistimewaan

Di Kompleks Makam Kanjeng Sepuh Sedayu, ada sejumlah makam tokoh-tokoh masyarakat Sedayu yaitu makam para Bupati Sedayu dan keturunannya. Uniknya, bentuk jirat atau nisan makam tersebut ada yang berbentuk segi empat dan ada pula yang berbentuk segi delapan. Khusus untuk makam para bupati diberi cungkup dan inskripsi yang berbahasa Melayu, Jawa, dan Belanda dengan menggunakan huruf Arab, Jawa, dan Latin. Selain sebagai acuan periodesasi awal hingga masa kolonial, penggunaan ketiga bahasa tersebut juga sebagai wujud dari akulturasi beberapa unsur kebudayaan.

Unsur kebudayaan pra Islam terlihat pada atap dan nisan makam yang menggunakan motif medolion, makutha, dan aksara Jawa Kuno. Adapun unsur kebudayaan Islam tampak jelas pada atap makam yang bermotif sayap, teratai, kekayon, dan huruf Arab-Jawa. Sementara pada kolom tulis dari setiap inskripsi dihiasi dengan rangkaian suluran, yaitu ranting atau dahan, daun, dan bunga. Keberadaan unsur-unsur tersebut adalah upaya untuk menjembatani agar kebudayaan Islam sebagai unsur yang baru dapat diterima oleh masyarakat Sedayu yang sebelumnya beragama Hindu-Buddha.

Di Kawasan Komplekss Makam Kanjeng Sepuh Sedayu juga terdapat masjid bersejarah, Masjid Agung Kanjeng Sepuh, yang merupakan peninggalan Kanjeng Sepuh Sedayu. Seperti halnya bentuk hiasan pada makam, bentuk atap dan mimbar masjid ini juga dihiasi dengan motif dari unsur kebudayaan pra Islam maupun kebudayaan Islam. Selain masjid, Kanjeng Sepuh Sedayu juga meninggalkan beberapa situs penting lainnya seperti Telaga Rambit dan Sumur Dhahar. Kedua situs ini masing-masing berada di Desa Purwodadi dan Golokan, Sidayu. Menurut cerita masyarakat setempat, meskipun setiap hari digunakan untuk air minum dan kebutuhan sehari-hari (seperti mandi dan mencuci), air telaga dan sumur tersebut tidak pernah habis, bahkan pada saat musim kemarau sekalipun.

C. Lokasi

Kompleks Makam Kanjeng Sedayu terletak di pusat Kota Sidayu, tepatnya di Desa Kauman, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. 

D. Akses

Desa Kauman di mana Kompleks Makam Kanjeng Sedayu berada berjarak sekitar 28 km dari Kota Gresik. Desa ini dapat dijangkau dengan menggunakan transportasi umum maupun pribadi. Untuk mencapai tempat ini Anda dapat mengambil jalur Pantura, Gresik-Tuban.

E. Tiket Masuk

Untuk memasuki kawasan Makam Kanjeng Sepuh Sedayu pengunjung tidak dikenakan biaya tiket masuk. Para pengunjung hanya diminta memberi sumbangan suka rela yang akan digunakan untuk biaya perawatan makam.

F. Fasilitas dan Akomodasi

Di Kompleks Makam Kanjeng Sepuh Sedayu terdapat masjid untuk tempat beribadah, tempat parkir yang luas, kamar mandi, dan sejumlah warung makan yang menyediakan makanan khas Jawa Timur seperti Sego Rawon, Sego Bebek, Sego Krawu, Soto Lamongan, dan Sate Madura. Selain itu, di sepanjang jalan gapura selamat datang sampai pintu masuk makam juga terdapat pertokoan.

(Samsuni/wm/43/09-2011)

";s:2:"en";s:0:"";}
a:2:{s:2:"id";s:26:"Makam Kanjeng Sepuh Sedayu";s:2:"en";s:0:"";}
a:2:{s:2:"id";s:7164:"

A. Selayang Pandang

Kuliner khas Kabupaten Pemalang ini terdengar eksentrik di telinga, nasi grombyang namanya. Asal-muasal penamaan ini sebenarnya mengacu pada cara penyajian makanan ini, yaitu porsi kuah yang lebih banyak dibandingkan dengan nasi dan isinya sehingga ketika disajikan di mangkuk terlihat grombyang-grombyang alias bergoyang-goyang seperti akan tumpah. Makanan kaya kuah ini cukup populer di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, kawasan yang salah satu sisinya berbatasan langsung dengan pesisir utara Jawa atau berada di jajaran rute utama Jakarta-Surabaya alias jalur Pantura.

Jika dilihat sekilas, nasi grombyang hampir mirip dengan soto, akan tetapi kuahnya yang cokelat pekat justru mengingatkan kita akan kuah rawon, makanan khas dari Jawa Timur itu.   Namun, bukan soto apalagi rawon, nasi grombyang sebenarnya adalah sejenis nasi campur yang mengandalkan daging kerbau dan kuah sebagai elemen utamanya. Irisan daging kerbau dan kuah ini kemudian dijadikan satu di sebuah mangkok kecil sebelum disajikan. Ketika dibawa dengan nampan, kuah yang melimpah seolah-olah akan meluap dari bibir mangkok. Dari kuah yang bergoyang-goyang sehingga hampir tumpah inilah yang kemudian dilafalkan dalam bahasa lokal dengan istilah grombyang.

Sejarah nasi grombyang yang kemudian menjadi salah satu ikon kuliner Pemalang sebenarnya masih belum diketahui dengan jelas. Akan tetapi, menurut warga setempat, nasi grombyang sudah dikenal sejak era 1960-an. Awalnya, para penjual nasi grombyang menjajakan dagangannya dengan berkeliling, keluar masuk kampung. Seiring dengan semakin banyaknya orang yang ketagihan akan nikmatnya makanan ini, maka muncullah beberapa warung nasi grombyang. Akhirnya, nasi grombyang pun kian disuka dan perlahan tapi pasti mulai memantapkan diri sebagai salah satu makanan tradisional khas dari Kabupaten Pemalang.

B. Keistimewaan

Hal yang paling membuat orang jatuh cinta pada nasi grombyang tentu saja daging kerbaunya. Daging mamalia yang satu ini memang sudah cukup jarang ditemui sehingga nasi grombyang menjadi salah satu pilihan utama untuk merasakan lezatnya daging kerbau terkenal sangat gurih. Istimewanya lagi, selain irisan daging kerbau yang disajikan di dalam mangkok beserta kuahnya, masih ada daging kerbau tersendiri yang khusus disediakan sebagai pelengkap makan nasi grombyang, yaitu sate kerbau. Jadi, bisa dibayangkan bagaimana lidah kita dimanjakan oleh lembut dan mantapnya daging kerbau yang diracik bersama kuah dengan ramuan bumbu khusus. Apalagi jika disantap bersama sambal cabai rawit dan taburan bawang goreng, nasi grombyang dijamin bakal membuat lidah Anda bergoyang.

Bukan hal yang melulu negatif apabila kawasan Pantura terlanjur identik dengan warung remang-remang, karena seperti itu pula suasana yang terhampar di sejumlah warung nasi grombyang. Ya, warung-warung makan sederhana itu memang punya ciri khas yang menarik. Selain penerangan di dalam warung yang samar-samar karena hanya diterangi oleh lentera atau lampu teplok, yang paling khas dari warung nasi grombyang adalah wadah kuah yang berupa kuwali (semacam gentong dari tembikar) berukuran besar dan tempat nasi yang ditutupi dengan kain berwarna merah. Setelah hidangan diantarkan, para pembeli biasanya menyantap nasi grombyang sembari duduk di dingklik alias kursi kecil dengan kaki-kaki penyangga yang pendek. Nikmati orisinalitas rasa dan suasananya.

C. Lokasi

Warung-warung yang menyediakan menu nasi grombyang terbilang sangat mudah ditemukan di Pemalang, terutama di sepanjang Jalan RE Martadinata dan di lingkungan alun-alun Kota Pemalang. Akses menuju lokasi ini pun cukup gampang dijangkau karena terletak di pusat Kota Pemalang. Jika Anda melintas Pemalang dari jalur Pantura, Anda akan menjumpai sebuah perempatan lampu merah di daerah yang bernama Pagaran. Dari perempatan Pagaran itu Anda tinggal belok ke kanan hingga sampai ke sebuah perlintasan kereta api. Setelah melewati rel tersebut, maka Anda akan tiba di Pasar Anyar. Nah, lokasi Jalan RE Martadinata ada di sebelah selatan pasar tersebut.

Di antara penjual nasi grombyang di sepanjang Jalan RE Martadinata, Pemalang, terdapat beberapa warung makan yang paling terkenal. Salah satunya adalah warung nasi grombyang Pak H. Warso. Orang Pemalang sangat menggemari nasi grombyang Pak H. Warso ini. Bahkan, tidak sedikit orang dari luar kota yang sedang berkunjung ke Pemalang, atau hanya sekadar lewat, selalu menyempatkan diri mampir ke warung ini. Selain nasi grombyangnya yang terkenal enak, warung Pak H. Warso juga terjaga kebersihannya sehingga semakin membuat nyaman para pelanggannya. Sebenarnya masih ada beberapa warung makan nasi grombyang di Pemalang yang juga tak kalah laris, antara lain warung nasi grombyang milik Pak H. Waridin yang berlokasi di Sirandu (bekas terminal lama Pemalang) atau nasi grombyang Pak Syukur yang biasa membuka warungnya di depan Pasar Petarukan.

d. Harga

Untuk menikmati satu porsi nasi grombyang, Anda hanya perlu merogoh kocek antara 8000 sampai 10.000 rupiah (per April 2011). Sedangkan 1 tusuk sate kerbau cuma dihargai Rp. 1000 saja. Murah meriah, bukan? Nah, tunggu apa lagi! Jika Anda ke Pemalang, jangan lupa cicipi nasi grombyang.

(Iswara N Raditya/wm/01/08-2011) 

Sumber Foto: http://kitabmasakan.com

";s:2:"en";s:0:"";}
a:2:{s:2:"id";s:14:"Nasi Grombyang";s:2:"en";s:0:"";}
a:2:{s:2:"id";s:8245:"

A. Selayang Pandang

Purbalingga adalah nama sebuah kabupaten di Jawa Tengah yang memiliki alur geografis yang cukup unik. Wilayah Kabupaten Purbalingga berada di sebuah cekungan besar buatan alam. Kabupaten ini ini diapit oleh rangkaian pegunungan di sisi utaranya, yaitu Gunung Slamet dan Dataran Tinggi Dieng, sedangkan kawasan di sebelah selatan dialiri derasnya Sungai Serayu. Ibukota kabupaten ini adalah di Kota Purbalingga yang berjarak sekitar 21 km di sebelah timur laut Purwokerto. Purbalingga menyimpan beragam potensi menarik. Selain terkenal dengan keindahan panorama alamnya, kabupaten ini juga punya kekayaan kuliner yang khas dan tentunya menggiurkan.

Salah satu kuliner asli Purbalingga adalah buntil. Dilihat dari namanya, buntil terkesan seperti penganan ndeso, tapi jangan salah, justru makanan inilah yang menjadi salah satu ikon kuliner Kabupaten Purbalingga karena keunikan bentuk dan citarasanya khas bin unik. Buntil adalah menu makanan sehat, namun tetap nikmat, yang dibuat dari kukusan daun keladi, daun pepaya, atau daun singkong. Kukusan daun yang kaya gizi itu kemudian diisi dengan parutan kelapa yang dicampur ikan teri. Jangan skeptis dulu saat melihat tampilan buntil. Cicipi terlebih dulu, barulah Anda boleh berkomentar. Konon, buntil menjadi makanan favorit orang-orang Belanda yang menetap di Purbalingga dan sekitarnya pada masa penjajahan Belanda dulu.

B. Keistimewaan

Ada yang bilang, buntil nyaris mirip dengan bothok, makanan tradisional yang cukup dikenal luas di seantero Jawa Tengah. Bedanya, bothok dibungkus dengan daun pisang, sementara buntil dibalut dengan bungkusan dari daun singkong muda (bisa juga memakai daun keladi atau daun pepaya) dan ditambahkan sedikit kuah bercitarasa pedas yang dibuat dari santan beserta seperangkat bumbunya. Karena bothok dibungkus dengan daun pisang, maka bungkusnya tidak bisa dimakan. Berbeda dengan buntil yang bisa dilahap sekaligus dengan bungkusnya karena terbuat dari daun singkong muda yang selain terkenal nikmat, juga sangat menyehatkan.

Buntil yang terbungkus daun singkong muda serta diisi dengan campuran parutan kelapa dan ikan teri diramu dengan berbagai bahan pendukung lainnya sebagai bumbunya, yaitu bawang, cabai, lengkuas, asam, garam, dan lain sebagainya. Cara penyajiannya, buntil disiram dengan kuah pedas dan sertakan pula beberapa cabai rawit yang dibiarkan utuh. Setelah itu baru disantap, bisa sebagai lauk nasi atau dimakan begitu saja, dan segera rasakan nikmatnya. Sengatan pedas yang berpadu dengan citarasa gurih dan sedikit asin, ditambah dengan nuansa alami dari daun singkong sebagai pembungkusnya, dijamin membuat Anda tidak lagi meremehkan kudapan tradisional yang kerap diklaim sebagai makanan ndeso ini.

C. Lokasi

Di berbagai tempat di Purbalingga, banyak penduduk lokal yang mulai melirik potensi buntil untuk diproduksi secara home industry, meskipun telah cukup banyak pula orang Purbalingga yang berbisnis makanan ini. Namun, ada satu jenis buntil yang oleh banyak orang dianggap paling istimewa, yaitu di Dukuh Carangmanggang, Desa Karangbanjar, Kecamatan Bojongsari, Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Buntil buatan Kasmini yang menggeluti usaha ini sejak 44 tahun silam ini terkenal dengan nama Buntil Carangmanggang atau Buntil Kutasari. Carangmanggang adalah dusun tempat tinggal Kasmini, sedangkan Kutasari merupakan nama pasar tradisional di mana Kasmini menjajakan buntil buatannya.

Buntil Carangmanggang memang sedikit berbeda dengan buntil pada umumnya. Perbedaan itu terletak pada racikan bumbu yang membuat buntil ini menjadi lain daripada yang lain. Kasmini mengisi buntilnya dengan parutan kelapa muda yang dipadukan dengan berbagai macam bumbu khusus. Istimewanya lagi, daun pembungkus Buntil Carangmanggang berbeda-beda jenisnya. Pembeli bisa memilih langsung, apakah mau dibungkus dengan daun singkong, daun talas, atau daun pepaya yang disukai karena bercitarasa sedikit pahit namun nikmat. Buntil Kasmini ditanggung semakin lezat setelah disiram santan. Tidak main-main, langganan tetap Kasmini adalah Pemerintah Kabupaten Purbalingga yang sering memesan buntil untuk menjamu pejabat atau tamu yang datang dari luar kota. Anda juga harus bergerak cepat jika ingin mencicipi Buntil Carangmanggang karena setiap hari banyak orang yang rela mengantri di warung buntil Kasmini di Pasar Kuntisari.

Sebenarnya Anda bisa pula membeli buntil di pasar-pasar tradisional lainnya yang tersebar di Purbalingga, meskipun buntil yang paling terkenal adalah Buntil Carangmanggang yang dijajakan hanya di Pasar Kuntisari. Soal rasa sesungguhnya relatif dan bisa diperbandingkan sendiri karena selera orang berbeda-beda. Jika Anda benar-benar penasaran dengan makanan tradisional yang satu ini, sebaiknya Anda berangkat ke pasar di waktu pagi, karena jika tidak, selain bisa kehabisan, mungkin juga pasarnya keburu sepi. Pasar tradisional di Purbalingga biasanya memang ramai sejak dini hari, namun beringsut menjadi sepi seiring dengan naiknya matahari.

D. Harga

Biasanya, buntil di Purbalingga dijual secara satuan. Satu buntil rata-rata dibanderol dengan harga antara 2500-4000 rupiah (per Juli 2011). Namun, jika Anda menginginkan membeli buntil dengan jumlah yang cukup banyak, buntil bisa juga dikemas dengan baik sehingga dapat dibawa pulang untuk dijadikan sebagai oleh-oleh khas dari Purbalingga.

(Iswara N Raditya/01/07-2011)

Sumber Foto: http://www.pbase.com

";s:2:"en";s:0:"";}
a:2:{s:2:"id";s:18:"Buntil Purbalingga";s:2:"en";s:0:"";}
a:2:{s:2:"id";s:50:"Balai Pinang Lima (Museum Melayu dan Kantor BKPBM)";s:2:"en";s:0:"";}
a:2:{s:2:"id";s:9:"Pusentase";s:2:"en";s:0:"";}
a:2:{s:2:"id";s:13:"Tari Cakalele";s:2:"en";s:0:"";}
a:2:{s:2:"id";s:0:"";s:2:"en";s:16:"Sego Abang Jirak";}
a:2:{s:2:"id";s:22:"Air Terjun Bantimurung";s:2:"en";s:0:"";}
a:2:{s:2:"id";s:0:"";s:2:"en";s:10:"Kuta Beach";}
a:2:{s:2:"id";s:25:"Taman Bermain Serulingmas";s:2:"en";s:0:"";}
Wisata Melayu
Arbia', 15 Rabi'ul Awal 1433 (Rabu, 8 Februari 2012)

Obyek Wisata

  • Makam Kanjeng Sepuh Sedayu

    Kabupaten Kediri - Jawa Timur - Indonesia

    A. Selayang Pandang Gresik tidak hanya terkenal sebagai salah satu kota industri terbesar di Jawa Timur saja, tapi juga menjadi salah satu tujuan wisata sejarah, khususnya wisata makam para tokoh bersejarah. Makam Kanjeng Sepuh adalah salah satu dari sejumlah makam tokoh besar yang ramai ... detail... »

  • Nasi Grombyang

    Kabupaten Pemalang - Jawa Tengah - Indonesia

    A. Selayang Pandang Kuliner khas Kabupaten Pemalang ini terdengar eksentrik di telinga, nasi grombyang namanya. Asal-muasal penamaan ini sebenarnya mengacu pada cara penyajian makanan ini, yaitu porsi kuah yang lebih banyak dibandingkan dengan nasi dan isinya sehingga ketika disajikan di ... detail... »

  • Buntil Purbalingga

    Kabupaten Purbalingga - Jawa Tengah - Indonesia

    A. Selayang Pandang Purbalingga adalah nama sebuah kabupaten di Jawa Tengah yang memiliki alur geografis yang cukup unik. Wilayah Kabupaten Purbalingga berada di sebuah cekungan besar buatan alam. Kabupaten ini ini diapit oleh rangkaian pegunungan di sisi utaranya, yaitu Gunung Slamet dan ... detail... »

Berita Wisata

  • "Sayyang Pattuddu" Majene Ramaikan Perayaan Maulid Nabi
    7 Februari 2012 10:49

    "Sayyang Pattuddu" Majene Ramaikan Perayaan Maulid Nabi

    Majene, Sulbar - Pementasan ciri khas kebudayaan Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, "Sayyang Pattuddu" (kontes kuda hias), di Majene, Minggu, disambut antusias ribuan masyarakat. Pementasan dan kontes kuda hias yang digelar di halaman gedung Assamaleuang Majene, mendapat perhatian besar dari ... detail... »

  • Pameran Budaya dan Karya Seni Peranakan Tionghoa Digelar
    7 Februari 2012 10:34

    Pameran Budaya dan Karya Seni Peranakan Tionghoa Digelar

    Jakarta - Pameran Budaya dan Karya Seni Peranakan Tionghoa Indonesia dibuka Senin (6/2/2012) malam ini di Bentara Budaya Jakarta. Pameran ini diikuti dengan peluncuran buku "Chinese Indonesian Peranakan - a Cultural Journey". Penggagas dan Pendiri Komunitas Lintas Budaya yang juga kurator ... detail... »

  • Festival Endog-endogan Perayaan Maulud di Banyuwangi
    6 Februari 2012 15:09

    Festival Endog-endogan Perayaan Maulud di Banyuwangi

    Banyuwangi, Jatim - Setidaknya 1.000-an anak SD hingga SMP di Banyuwangi merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan mengadakan festival endog-endogan. Mereka tampil dengan berbagai kostum, dari kostum tradisional seperti kuntulan, hingga kostum bergaya sunan Ampel hingga kalijaga. Di ... detail... »

  • Index Berita | Berita Wisata lainnya »

Opini Wisata

  • Mengunjungi Orang Melayu di Bali
    13 Oktober 2011 10:17

    Mengunjungi Orang Melayu di Bali

    Oleh Yusuf Efendi Wisata Bali tidak hanya  menawarkan keindahan alam dan budayanya saja. Bali ternyata juga menyuguhkan  wisata kebhinekaan yang sudah berlangsung ratusan tahun. Siapa yang  menyangka jika di Bali, tepatnya di Kabupaten Jembrana, terdapat komunitas  orang Melayu ... detail... »

  • Menyusuri Jejak Kemegahan Kerajaan Melayu
    24 Agustus 2011 11:27

    Menyusuri Jejak Kemegahan Kerajaan Melayu

    Oleh Agnes Rita SulistyawatyNama Dharmasraya boleh jadi tidak sepopuler Kota Padang, pun tidak setenar Bukittinggi dengan Jam Gadangnya. Namun, di kabupaten yang terletak di Sumatera Barat itulah tersimpan situs sejarah ibu kota Kerajaan Melayu abad ke-13. Candi-candi peninggalan Kerajaan Melayu ... detail... »

  • Berkunjung ke Pura Para Dewa
    13 Juli 2011 10:10

    Berkunjung ke Pura Para Dewa

    Oleh Yusuf Efendi Dari penginapan murah di sekitar Kuta, Bali, hari itu saya dengan seorang teman sengaja bangun jam 4 pagi. Sesuatu yang jarang kami lakukan jika tidur di kos-kosan. Pagi itu, kami ingin mengunjungi Tanah Lot, pura para dewa yang konon dijaga oleh sekelompok ular. Menurut ... detail... »

  • Index kolom wisata | Kolom wisata lain »

Artikel Wisata

Custom Search